Senin, 16 Mei 2016



“AYAH”



“bang,kasih dong sebatang,parkiran lagi sepi nih, ntar klo rame, ku bayar full deh, serius”, rayuku sambil menyodorkan uang bergambar pahlawan Kapitan Pattimura pada bang Jafar, pemilik kios gerobak di samping parkiran pasar tempat ku bekerja.

“eh Tia, kamu pikir kios ku ni kios amal ? ada duit, ada barang, duitnya juga ga boleh kurang“ jawab bang Jafar sembari membersihkan toples permen dagangannya.

                “aihh, sekali ni aja bang, beramallah sedikit ke anak piatu ni”, rengekku yang tak pantang menyerah demi sebatang rokok.

                “aduh Tia, bukannya ga mau memberimu, tapi kamu lihatlah dari pagi sampai tengah hari ni cuman anak sekolah yang membeli roti di kiosku ni,lagi pula tak baik seorang gadis sepertimu menghisap nikotin”,jawab bang Jafar panjang lebar.

“Assalamualaikum”,salam seorang pria bertubuh tinggi besar mengenakan jaket jeans lusuh yang mungkin sudah satu bulan tidak digantinya. Dia Roni Apriansyah, ayahku.

“Wa’alaikumsalam, bang Roni, mangga duduk bang, saya ambilkan minuman botol dulu” jawab bang Jafar ramah sambil menyalami tangan ayah dan mengambilkan sebuah kursi plastik untuknya.

Keramahan bang Jafar berbanding terbalik dengan sikapku yang acuh tak acuh pada ayah. Jangankan menjawab salamnya, melihatnya pun aku malas.  Aku membencinya sejak ibu meninggal setahun yang lalu, dia orang yang harus disalahkan atas kematian ibu yang berjuang keras membesarkan kami selama hidupnya.

“hilangkan kebiasaan burukmu itu nak, ga baik untuk kesehatanmu,Tia yang ayah kenal ga seperti ini“ Nasehat ayah lembut padaku.

“ga usah nasehati aku, aku bukan anak kecil. Urus dirimu sendiri“ jawabku ketus seraya meninggalkannya bersama Bang Jafar.

Uh, mengapa harus bertemu dengannya di sini?, di pasar Glodok yang menjadi saksi pekerjaan ayah sebagai seorang preman yang sangat di takuti penduduk pasar? Bahkan ayahlah yang mengenalkanku pada dunia hitamnya, dunia yang sangat memudahkanku mendapatkan jajan jajan kesukaanku secara gratis dari pemilik kios di pasar. Tapi sekarang ayah bukan ayahku yang dulu, dia berubah sejak kematian ibu.

Ku hilangkan pikiran tentang ayah, dan berjalan menuju kios kosong di belakang parkiran pasar. Di sana sudah  berkumpul teman seprofesiku, Adam, Bondan dan Ratih. Kios kosong ini memang  kami jadikan tempat berkumpul untuk mengatur strategi pencopetan, atau hanya sekedar nongkrong saat pasar sepi pengunjung.

“Tia, kamu sebagai anak dari ketua preman di sini harus mengambil sikap. Kita ga bisa diam terus terusan, ayahmu sudah meninggalkan kita dan lebih memilih narik bajaj, setelah kematian ibumu, life must go on beb”, suara Adam membuka obrolan.

“Oke, pekerjaan kita akan terus berjalan dengan atau tanpa ayahku,sekarang kita bagi tugas, aku menentukan korban yang akan kita eksekusi, Bondan dan Adam, kalian bertugas sebagai eksekutor, keberhasilan kita tergantung sama pekerjaan kalian“ jawabku menjelaskan panjang lebar rencana pekerjaan kami,

“ terus aku? “ Tanya Ratih.

“hmm, kamu sebagai pengalih perhatian aja, kamu kan sering gugup, sebelum Bondan dan Adam beraksi kamu harus pastikan korban ga sadar kalo jadi incaran kita“ terangku sekali lagi.

Ratih mengangguk tanda mengerti dan setuju, begitu pun dengan Bondan dan Adam. Kami bergegas meninggalkan markas kecil kami menuju keramaian pasar. Kami berpencar, dan mencari posisi yang strategis. Mereka menunggu instruksi dariku untuk memulai aksi kami siang ini. Ku perhatikan satu persatu pembeli di pasar ini, dan mataku tertuju pada seorang gadis dengan tinggi sekitar 155 cm yang mengenakan pakaian besar berwarna ungu tua menutupi hampir seluruh tubuhnya juga kerudung panjang berwarna senada, sepertinya ia seorang mahasiswa karena ku lihat sebuah tanda pengenal perguruan tinggi yang tidak terlalu jelas ku baca tergantung di tas ranselnya. Dia berjalan menyusuri lorong lorong kios, senyumnya ramah pada semua orang yang ia temui. Gadis itu kemudian duduk di samping Pak Anjar yang ku kenal sering bekerja sebagai tukang pikul, gadis itu duduk di samping  pria tua berumur 60 tahun itu. Ia mengeluarkan dompet dan mengambil uang berwarna biru kemudian  diserahkannya uang tersebut pada Pak Anjar,lalu beranjak pergi meninggalkan Pak Anjar

Yups, ini dia target yang ku tunggu, gumamku dalam hati. Segera ku hubungi kawan kawan seperjuanganku yang sejak tadi menunggu instruksi dariku. Lima menit kemudian, Ratih mulai melayangkan jurusnya, disusul Bondan dan Adam. Brukk !!! Ratih menabrak gadis itu hingga terjatuh, Bondan dan Adam beraksi. Sekejap Ratih menghilang dikerumunan pasar. Bondan, Adam, dan Ratih sukses melakukan tugasnya hari ini, tapi mataku masih tertuju pada gadis itu. Setelah ditabrak, gadis itu tidak bisa berdiri dalam waktu yang cukup lama,tangannya memegang kepala bagian belakang seperti menahan sakit yang luar biasa, orang yang ingin menolong  ditolaknya secara halus, kemudian ia meraih sesuatu dari dalam ranselnya, ia menggenggam telepon seluler dan menelpon seseorang.

Tak lama kemudian seorang laki laki dengan jenggot tipis datang dan menggendong gadis itu. Aku berfikir bahwa laki laki itu pasti kekasihnya. Selama menjalankan pekerjaan ini aku tidak pernah memikirkan bagaimana kondisi korban pencopetanku. Tapi tidak kali ini. Telepon seluler ku berdering, dan ternyata pesan singkat dari  Adam.

KAMI MENUNGGUMU DI MARKAS.

Ku langkahkan kakiku menuju tempat yang dituliskan Adam. Di sana, Adam, Bondan, Ratih bercengkrama dan tertawa lepas. Adam memberikan dompet hasil copetan kami tadi, ku periksa isi dompet gadis itu, aku kagum melihat deretan uang kertas yang tersusun rapi dengan susunan nominal terkecil hingga terbesar bahkan posisi nomor seri yang tersusun sejajar. Ku keluarkan semua uang yang ada di dalamnya, ku bagi uang tersebut dengan nilai yang sama. Tidak seperti biasanya yang langsung membuang dompet hasil copetan , kali ini dompet itu ku simpan. Entah,ada rasa ingin tahuku tentang gadis itu.  Selepas itu kami pulang.

Sesampainya di rumah aku melihat bajaj milik Pak Andi Hasan yang diberikan secara cuma-cuma kepada ayah parkir di depan pagar rumah kami, rupanya ayah sudah. Di dalam rumah, ku lihat adik semata wayangku,Doni bermain bersama ayah. Aku masuk kamar tanpa memberi salam dan menyapa adik dan ayah. Ku baringkan tubuhku di lantai kamar beralaskan tikar coklat peninggalan ibuku. Ku buka dompet gadis itu, ku periksa satu persatu identitas yang ada. Rupanya nama gadis itu adalah Khairun Nisa, seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta. Di dalamnya juga terdapat foto wanita dan pria paruh baya yang duduk sejajar, juga foto gadis itu bersama pria berjenggot tipis yang tadi menolong gadis itu. Dalam foto itu pria berjenggot tipis itu memeluk manja gadis itu. Keduanya tersenyum mengarah kamera. Berdesir darahku melihat foto pasangan itu, aku membandingkan dengan keadaan yang ku alami. Hingga ibu meninggal, aku tidak memiliki satu pun foto bersamanya. Tiba-tiba aku rindu ibu, aku ingin memeluknya. Walau hanya dalam mimpi.

“Tia, Tia, ayo nak makan dulu, kamu pasti lapar. Ayah sudah masak nasi goreng kesukaanmu“ panggilan ayah dari luar kamarku menghentikan lamunan indahku tentang ibu.

“aku ga lapar, makan aj sendiri“ teriakku dari dalam kamar.

“ayo Tia, ayah sudah memasakkannya untukmu dan Doni“

Ku buka pintu kamar yang tak layak dikatakan pintu itu.

“aku ga pernah memintamu masak untuk ku dan Doni, kami sudah terbiasa kelaparan sejak ibu masih ada“

“Tia, tolong berhenti menghakimi ayah, ayah sudah menyadari kesalahan ayah. Ayah ingin membayar kesalahan ayah nak“

“Membayar? Apakah dengan membayar kesalahanmu, ibuku akan kembali? Ingat, ibu meninggal karena kesalahanmu, kamu ga pernah menafkahi kami, ibu yang setiap hari banting tulang jualan kue, sampe dia harus tertabrak kereta api karena ada pembeli kue di sebrang rel? penyesalanmu ga akan mengembalikan ibuku“

Pertengkaranku dengan ayah membuat Doni yang berumur 3 tahun itu ketakutan,selepas memaki  ayah, aku keluar rumah. Pergi meninggalkan rumah dan isinya yang membuatku tidak betah.

Aku menghubungi Adam, memintanya menemiku melepaskan pikiran suntukku malam ini.

“Life must go on, Ti. Lupain masalah yang ada“ ucap  Adam santai sambil menyodorkan sebatang rokok kretek dari saku bajunya.

“aku nelpon kamu bukan untuk dengerin nasehat-nasehat ga mutumu“ jawabku sambil membakar rokok  pemberian Adam.

“aku cukup tau kamu, Ti. Kalo kamu perlu punggungku untuk bersandar,aku siap, hahaha“.

“apa kamu juga siap nerima tinjuku ini?“ ancamku sambil mengepalkan tangan kananku ke mukanya.

Malam ini cukup untukku hilangkan penat, saatnya pulang menemui  adik semata wayangku, sudah lama aku tidak memeluk dan bercanda dengannya. Teringat wajah polosnya yang ketakutan melihat perdebatanku dengan ayah tadi.

Sesampainya di rumah, ku temui adik dan ayahku tertidur di ruang tamu, saat ku menuju kamar

 “kamu sudah pulang nak?” tanya ayah tanpa menunggu jawabanku kemudian berbicara kembali.

 “ayah ga suka kamu terus berhubungan sama Adam cs, mereka akan membawa pengaruh buruk nak”

“apa? pengaruh buruk? Bukannya kamu yang menjadikan mereka buruk? Bukankah kamu yang menurunkan ilmu sesat itu kepada mereka?“ jawabku ketus seraya menutup pintu kamarku tanpa melihat kewajahnya.

Ku baringkan tubuhku  di tikar kesayanganku tanpa melepas sepatu dan pakaianku. Ku buka lagi dompet gadis itu. Pikiranku kembali mengingatnya. Ku lihat lagi foto gadis itu, senyumnya seperti tanpa beban, senyum penuh bahagia. Ah, mungkin karena foto bersama kekasihnya yang membuat senyum itu indah, pikirku. Ku bandingkan gadis itu dengan ku, 360 derajat berbeda. Seperti langit dan bumi, gadis itu seperti langit yang indah pada malam hari, penuh bintang bertabur cahaya. Dan aku seperti bumi yang sudah dua tahun tidak merasakan indahnya hujan, gersang, kering. Tak jarang mereka di pasar memanggilku “ mas” atau “bang”. Bagaimana tidak, aku jarang mandi yang membuat rambutku keriting terpaksa, juga baju andalan berwarna hitam lusuh yang ku pakai bersama rompi tentara yang ku ambil paksa dari loakan di pasar, ditambah dengan celana jogger hitam pudar. Pikiranku tentang gadis itu terus berputar di otakku hingga mata ini terlelap.

*******

“kamu sudah bangun nak? Ayo sarapan dulu, ayah membuatkan nasi goreng untuk kalian” sapa ayah saat melihatku ke luar kamar. Aku terpaksa bangun karena suara wajan ayah mengagetkanku.

“nasi goreng ? saat ibu masih ada, aku suka nasi goreng, tapi sekarang ga, apalagi itu buatan mu” jawabku ketus.

“enyak kak, mam kak,cini cama Doni“ ajak adikku dengan bahasanya yang belum jelas terdengar

Terpaksa aku mengambil piring dan menuangkan seentong nasi goreng dari wajan. Kemudian duduk di samping Doni. Sedetik ku lirik ayah, ia tersenyum senang melihatku makan masakannya, mungkin, pikirku.

“hari ini jangan kemana mana ya nak, ga enak titipin Doni ke Bu Sina terus, ayah akan pulang lebih awal” pinta ayah padaku.

Memang sepeninggal ibu, Doni selalu dititipkan kepada bu Sina, istri Pak Andi yang sudah 15 tahun menikah namun tidak kunjung diberi momongan.

“ga bisa, aku uda janji ma Adam mo ketemuan di pasar, ada urusan“ jawabku berbohong sambil mengunyah nasi goreng buatan ayah yang ku rasa cukup enak.

“urusan nyopet? Jangan terus lakukan itu nak, ayah sudah bisa mencukupi kebutuhan kita, walaupun belum maksimal“ bujuk ayah lagi.

“bukankah janji itu hutang?“ jawabku seraya berdiri mengakhiri sarapanku pagi ini.

bersambung.....