“AYAH”
“bang,kasih dong
sebatang,parkiran lagi sepi nih, ntar klo rame, ku bayar full deh, serius”,
rayuku sambil menyodorkan uang bergambar pahlawan Kapitan Pattimura pada bang
Jafar, pemilik kios gerobak di samping parkiran pasar tempat ku bekerja.
“eh Tia, kamu
pikir kios ku ni kios amal ? ada duit, ada barang, duitnya juga ga boleh
kurang“ jawab bang Jafar sembari membersihkan toples permen dagangannya.
“aihh,
sekali ni aja bang, beramallah sedikit ke anak piatu ni”, rengekku yang tak
pantang menyerah demi sebatang rokok.
“aduh
Tia, bukannya ga mau memberimu, tapi kamu lihatlah dari pagi sampai tengah hari
ni cuman anak sekolah yang membeli roti di kiosku ni,lagi pula tak baik seorang
gadis sepertimu menghisap nikotin”,jawab bang Jafar panjang lebar.
“Assalamualaikum”,salam
seorang pria bertubuh tinggi besar mengenakan jaket jeans lusuh yang mungkin
sudah satu bulan tidak digantinya. Dia Roni Apriansyah, ayahku.
“Wa’alaikumsalam,
bang Roni, mangga duduk bang, saya ambilkan minuman botol dulu” jawab bang
Jafar ramah sambil menyalami tangan ayah dan mengambilkan sebuah kursi plastik
untuknya.
Keramahan bang Jafar berbanding
terbalik dengan sikapku yang acuh tak acuh pada ayah. Jangankan menjawab
salamnya, melihatnya pun aku malas. Aku
membencinya sejak ibu meninggal setahun yang lalu, dia orang yang harus
disalahkan atas kematian ibu yang berjuang keras membesarkan kami selama
hidupnya.
“hilangkan
kebiasaan burukmu itu nak, ga baik untuk kesehatanmu,Tia yang ayah kenal ga seperti
ini“ Nasehat ayah lembut padaku.
“ga usah
nasehati aku, aku bukan anak kecil. Urus dirimu sendiri“ jawabku ketus seraya
meninggalkannya bersama Bang Jafar.
Uh, mengapa harus bertemu dengannya
di sini?, di pasar Glodok yang menjadi saksi pekerjaan ayah sebagai seorang
preman yang sangat di takuti penduduk pasar? Bahkan ayahlah yang mengenalkanku
pada dunia hitamnya, dunia yang sangat memudahkanku mendapatkan jajan jajan
kesukaanku secara gratis dari pemilik kios di pasar. Tapi sekarang ayah bukan
ayahku yang dulu, dia berubah sejak kematian ibu.
Ku hilangkan pikiran tentang
ayah, dan berjalan menuju kios kosong di belakang parkiran pasar. Di sana sudah
berkumpul teman seprofesiku, Adam,
Bondan dan Ratih. Kios kosong ini memang kami jadikan tempat berkumpul untuk mengatur
strategi pencopetan, atau hanya sekedar nongkrong saat pasar sepi pengunjung.
“Tia, kamu
sebagai anak dari ketua preman di sini harus mengambil sikap. Kita ga bisa diam
terus terusan, ayahmu sudah meninggalkan kita dan lebih memilih narik bajaj,
setelah kematian ibumu, life must go on
beb”, suara Adam membuka obrolan.
“Oke, pekerjaan
kita akan terus berjalan dengan atau tanpa ayahku,sekarang kita bagi tugas, aku
menentukan korban yang akan kita eksekusi, Bondan dan Adam, kalian bertugas
sebagai eksekutor, keberhasilan kita tergantung sama pekerjaan kalian“ jawabku
menjelaskan panjang lebar rencana pekerjaan kami,
“ terus aku? “
Tanya Ratih.
“hmm, kamu
sebagai pengalih perhatian aja, kamu kan sering gugup, sebelum Bondan dan Adam
beraksi kamu harus pastikan korban ga sadar kalo jadi incaran kita“ terangku
sekali lagi.
Ratih mengangguk
tanda mengerti dan setuju, begitu pun dengan Bondan dan Adam. Kami bergegas
meninggalkan markas kecil kami menuju keramaian pasar. Kami berpencar, dan
mencari posisi yang strategis. Mereka menunggu instruksi dariku untuk memulai
aksi kami siang ini. Ku perhatikan satu persatu pembeli di pasar ini, dan
mataku tertuju pada seorang gadis dengan tinggi sekitar 155 cm yang mengenakan
pakaian besar berwarna ungu tua menutupi hampir seluruh tubuhnya juga kerudung
panjang berwarna senada, sepertinya ia seorang mahasiswa karena ku lihat sebuah
tanda pengenal perguruan tinggi yang tidak terlalu jelas ku baca tergantung di
tas ranselnya. Dia berjalan menyusuri lorong lorong kios, senyumnya ramah pada
semua orang yang ia temui. Gadis itu kemudian duduk di samping Pak Anjar yang
ku kenal sering bekerja sebagai tukang pikul, gadis itu duduk di samping pria tua berumur 60 tahun itu. Ia mengeluarkan
dompet dan mengambil uang berwarna biru kemudian diserahkannya uang tersebut pada Pak
Anjar,lalu beranjak pergi meninggalkan Pak Anjar
Yups, ini dia target yang ku tunggu,
gumamku dalam hati. Segera ku hubungi kawan kawan seperjuanganku yang sejak
tadi menunggu instruksi dariku. Lima menit kemudian, Ratih mulai melayangkan
jurusnya, disusul Bondan dan Adam. Brukk !!! Ratih menabrak gadis itu hingga
terjatuh, Bondan dan Adam beraksi. Sekejap Ratih menghilang dikerumunan pasar. Bondan,
Adam, dan Ratih sukses melakukan tugasnya hari ini, tapi mataku masih tertuju
pada gadis itu. Setelah ditabrak, gadis itu tidak bisa berdiri dalam waktu yang
cukup lama,tangannya memegang kepala bagian belakang seperti menahan sakit yang
luar biasa, orang yang ingin menolong ditolaknya secara halus, kemudian ia meraih
sesuatu dari dalam ranselnya, ia menggenggam telepon seluler dan menelpon
seseorang.
Tak lama kemudian
seorang laki laki dengan jenggot tipis datang dan menggendong gadis itu. Aku
berfikir bahwa laki laki itu pasti kekasihnya. Selama menjalankan pekerjaan ini
aku tidak pernah memikirkan bagaimana kondisi korban pencopetanku. Tapi tidak
kali ini. Telepon seluler ku berdering, dan ternyata
pesan singkat dari Adam.
KAMI MENUNGGUMU DI MARKAS.
Ku langkahkan
kakiku menuju tempat yang dituliskan Adam. Di sana, Adam, Bondan, Ratih
bercengkrama dan tertawa lepas. Adam memberikan dompet hasil copetan kami tadi,
ku periksa isi dompet gadis itu, aku kagum melihat deretan uang kertas yang
tersusun rapi dengan susunan nominal terkecil hingga terbesar bahkan posisi nomor
seri yang tersusun sejajar. Ku keluarkan semua uang yang ada di dalamnya, ku
bagi uang tersebut dengan nilai yang sama. Tidak seperti biasanya yang langsung
membuang dompet hasil copetan , kali ini dompet itu ku simpan. Entah,ada rasa
ingin tahuku tentang gadis itu. Selepas
itu kami pulang.
Sesampainya di
rumah aku melihat bajaj milik Pak Andi Hasan yang diberikan secara cuma-cuma
kepada ayah parkir di depan pagar rumah kami, rupanya ayah sudah. Di dalam
rumah, ku lihat adik semata wayangku,Doni bermain bersama ayah. Aku masuk kamar
tanpa memberi salam dan menyapa adik dan ayah. Ku baringkan tubuhku di lantai
kamar beralaskan tikar coklat peninggalan ibuku. Ku buka dompet gadis itu, ku
periksa satu persatu identitas yang ada. Rupanya nama gadis itu adalah Khairun
Nisa, seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta. Di dalamnya juga
terdapat foto wanita dan pria paruh baya yang duduk sejajar, juga foto gadis
itu bersama pria berjenggot tipis yang tadi menolong gadis itu. Dalam foto itu
pria berjenggot tipis itu memeluk manja gadis itu. Keduanya tersenyum mengarah
kamera. Berdesir darahku melihat foto pasangan itu, aku membandingkan dengan
keadaan yang ku alami. Hingga ibu meninggal, aku tidak memiliki satu pun foto
bersamanya. Tiba-tiba aku rindu ibu, aku ingin memeluknya. Walau hanya dalam
mimpi.
“Tia, Tia, ayo
nak makan dulu, kamu pasti lapar. Ayah sudah masak nasi goreng kesukaanmu“ panggilan
ayah dari luar kamarku menghentikan lamunan indahku tentang ibu.
“aku ga lapar,
makan aj sendiri“ teriakku dari dalam kamar.
“ayo Tia, ayah
sudah memasakkannya untukmu dan Doni“
Ku buka pintu kamar yang tak
layak dikatakan pintu itu.
“aku ga pernah
memintamu masak untuk ku dan Doni, kami sudah terbiasa kelaparan sejak ibu masih
ada“
“Tia, tolong
berhenti menghakimi ayah, ayah sudah menyadari kesalahan ayah. Ayah ingin
membayar kesalahan ayah nak“
“Membayar?
Apakah dengan membayar kesalahanmu, ibuku akan kembali? Ingat, ibu meninggal
karena kesalahanmu, kamu ga pernah menafkahi kami, ibu yang setiap hari banting
tulang jualan kue, sampe dia harus tertabrak kereta api karena ada pembeli kue
di sebrang rel? penyesalanmu ga akan mengembalikan ibuku“
Pertengkaranku dengan ayah
membuat Doni yang berumur 3 tahun itu ketakutan,selepas memaki ayah, aku keluar rumah. Pergi meninggalkan
rumah dan isinya yang membuatku tidak betah.
Aku menghubungi Adam, memintanya
menemiku melepaskan pikiran suntukku malam ini.
“Life must go
on, Ti. Lupain masalah yang ada“ ucap Adam santai sambil menyodorkan sebatang rokok
kretek dari saku bajunya.
“aku nelpon kamu
bukan untuk dengerin nasehat-nasehat ga mutumu“ jawabku sambil membakar rokok pemberian Adam.
“aku cukup tau
kamu, Ti. Kalo kamu perlu punggungku untuk bersandar,aku siap, hahaha“.
“apa kamu juga siap nerima tinjuku ini?“ ancamku
sambil mengepalkan tangan kananku ke mukanya.
Malam ini cukup untukku hilangkan penat,
saatnya pulang menemui adik semata
wayangku, sudah lama aku tidak memeluk dan bercanda dengannya. Teringat wajah
polosnya yang ketakutan melihat perdebatanku dengan ayah tadi.
Sesampainya
di rumah, ku temui adik dan ayahku tertidur di ruang tamu, saat ku menuju kamar
“kamu
sudah pulang nak?” tanya ayah tanpa menunggu jawabanku kemudian berbicara
kembali.
“ayah ga
suka kamu terus berhubungan sama Adam cs, mereka akan membawa pengaruh buruk
nak”
“apa? pengaruh buruk? Bukannya kamu yang
menjadikan mereka buruk? Bukankah kamu yang menurunkan ilmu sesat itu kepada
mereka?“ jawabku ketus seraya menutup pintu kamarku tanpa melihat kewajahnya.
Ku baringkan tubuhku di tikar kesayanganku tanpa melepas sepatu
dan pakaianku. Ku buka lagi dompet gadis itu. Pikiranku kembali mengingatnya.
Ku lihat lagi foto gadis itu, senyumnya seperti tanpa beban, senyum penuh
bahagia. Ah, mungkin karena foto bersama kekasihnya yang membuat senyum itu
indah, pikirku. Ku bandingkan gadis itu dengan ku, 360 derajat berbeda. Seperti
langit dan bumi, gadis itu seperti langit yang indah pada malam hari, penuh
bintang bertabur cahaya. Dan aku seperti bumi yang sudah dua tahun tidak
merasakan indahnya hujan, gersang, kering. Tak jarang mereka di pasar
memanggilku “ mas” atau “bang”. Bagaimana tidak, aku jarang mandi yang membuat
rambutku keriting terpaksa, juga baju andalan berwarna hitam lusuh yang ku
pakai bersama rompi tentara yang ku ambil paksa dari loakan di pasar, ditambah
dengan celana jogger hitam pudar. Pikiranku tentang gadis itu terus berputar di
otakku hingga mata ini terlelap.
*******
“kamu sudah bangun nak? Ayo sarapan dulu, ayah
membuatkan nasi goreng untuk kalian” sapa ayah saat melihatku ke luar kamar.
Aku terpaksa bangun karena suara wajan ayah mengagetkanku.
“nasi goreng ? saat ibu masih ada, aku suka
nasi goreng, tapi sekarang ga, apalagi itu buatan mu” jawabku ketus.
“enyak kak, mam kak,cini cama Doni“ ajak adikku
dengan bahasanya yang belum jelas terdengar
Terpaksa aku mengambil piring dan menuangkan seentong
nasi goreng dari wajan. Kemudian duduk di samping Doni. Sedetik ku lirik ayah,
ia tersenyum senang melihatku makan masakannya, mungkin, pikirku.
“hari ini jangan kemana mana ya nak, ga enak
titipin Doni ke Bu Sina terus, ayah akan pulang lebih awal” pinta ayah padaku.
Memang sepeninggal ibu, Doni selalu dititipkan
kepada bu Sina, istri Pak Andi yang sudah 15 tahun menikah namun tidak kunjung
diberi momongan.
“ga bisa, aku uda janji ma Adam mo ketemuan di
pasar, ada urusan“ jawabku berbohong sambil mengunyah nasi goreng buatan ayah
yang ku rasa cukup enak.
“urusan nyopet? Jangan terus lakukan itu nak,
ayah sudah bisa mencukupi kebutuhan kita, walaupun belum maksimal“ bujuk ayah
lagi.
“bukankah janji itu hutang?“ jawabku seraya
berdiri mengakhiri sarapanku pagi ini.
bersambung.....